Pemerintah Pastikan Beras Gula Jagung Aman Tanpa Impor Tahun 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:56:25 WIB
Pemerintah Pastikan Beras Gula Jagung Aman Tanpa Impor Tahun 2026

JAKARTA - Indonesia menghadapi awal tahun 2026 dengan kondisi stok pangan strategis yang memadai. 

Pemerintah menegaskan bahwa tidak ada rencana impor beras, gula konsumsi, maupun jagung pakan sepanjang tahun ini. 

Keputusan ini didasarkan pada data persediaan yang menunjukkan surplus dari tahun sebelumnya, sekaligus proyeksi produksi nasional yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Stok Beras Memadai hingga Panen Berikutnya

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait, stok beras nasional mencatat angka signifikan. 

Carry over stock dari 2025 ke 2026 tercatat sebesar 12,53 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebanyak 3,25 juta ton per 31 Desember 2025.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir lima bulan di awal 2026 hingga musim panen berikutnya tiba. “Ketersediaan stok dan produksi secara nasional dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat,” ujar Ketut dalam keterangan tertulis yang dikutip pada 1 Januari 2026.

Produksi beras nasional juga diproyeksikan mencapai 34,7 juta ton sepanjang 2026. Dengan tambahan produksi tersebut, stok akhir tahun diperkirakan meningkat menjadi 16,194 juta ton. Dalam skenario ini, pemerintah menegaskan bahwa impor beras dipastikan nihil, sementara ekspor beras diproyeksikan terbatas, sekitar 71 ton.

Jagung Pakan Aman Tanpa Impor

Selain beras, pemerintah juga memastikan ketersediaan jagung pakan cukup. Carry over stock jagung tercatat 4,5 juta ton, yang mampu memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan bulanan masyarakat dan industri pakan ternak.

Proyeksi produksi jagung nasional sepanjang 2026 mencapai 18 juta ton, sehingga stok akhir tahun diperkirakan sebesar 4,58 juta ton. Pemerintah juga membuka ruang ekspor jagung sebesar 52,9 ribu ton, tetapi tidak berencana melakukan impor, baik untuk kebutuhan pakan, benih, maupun rumah tangga.

Keputusan ini menunjukkan bahwa sektor jagung nasional semakin mandiri, didukung oleh kapasitas produksi yang memadai dan stok awal tahun yang kuat. Dengan demikian, kestabilan pasokan jagung untuk kebutuhan domestik maupun ekspor dapat terjaga tanpa ketergantungan impor.

Gula Konsumsi Terjamin Selama 2026

Ketersediaan gula konsumsi juga menjadi fokus pemerintah. Stok sisa dari tahun sebelumnya (carry over stock) diperkirakan mencapai 1,43 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama enam bulan dengan asumsi konsumsi bulanan 236,4 ribu ton.

Sementara itu, produksi gula nasional diproyeksikan mencapai 2,72 juta ton sepanjang 2026. Dengan tambahan produksi ini, stok akhir tahun diperkirakan berada di angka 1,32 juta ton. Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah memastikan tidak ada rencana impor gula konsumsi sepanjang 2026.

Ketut menambahkan, selain beras, gula, dan jagung, beberapa komoditas pangan lain seperti bawang merah, cabai, telur ayam ras, dan daging ayam juga sudah cukup tersedia secara nasional. “Indonesia telah sufficient. Produksi petani dan peternak kita mumpuni,” ujarnya.

Surplus Komoditas Lainnya

Data Bapanas menunjukkan bahwa produksi bawang merah nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 1,39 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 1,23 juta ton. Produksi cabai besar dan cabai rawit masing-masing mencapai 1,609 juta ton dan 1,744 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi nasional.

Selain itu, surplus juga tercatat pada produksi telur dan daging ayam ras. Produksi telur ayam ras pada 2025 diperkirakan mencapai 6,53 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi 6,48 juta ton. 

Sedangkan produksi daging ayam ras diperkirakan 4,28 juta ton dengan konsumsi 4,13 juta ton. Kondisi ini menegaskan bahwa beberapa komoditas pangan penting Indonesia sudah mandiri tanpa impor.

Implikasi Kebijakan Tanpa Impor

Dengan stok yang melimpah, pemerintah menilai tidak perlu melakukan impor untuk menjaga ketersediaan pangan strategis. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan risiko ketergantungan terhadap pasar internasional dan menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Selain itu, keputusan untuk tidak mengimpor juga memberi sinyal positif bagi petani dan peternak lokal. Mereka memiliki kepastian pasar dan potensi harga stabil karena stok nasional cukup dan ekspor tetap dibuka secara terbatas.

Tantangan dan Prospek 2026

Meski stok pangan cukup, pemerintah tetap perlu waspada terhadap faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, hama, atau gangguan distribusi yang dapat mempengaruhi ketersediaan pangan. Oleh karena itu, pemantauan rutin dan penguatan cadangan strategis tetap menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan pangan nasional.

Bapanas bersama kementerian terkait akan terus mengawasi produksi dan distribusi komoditas pangan strategis, memastikan bahwa surplus stok dapat dimanfaatkan secara optimal, dan menjaga keseimbangan antara konsumsi domestik dan ekspor.

Dengan kebijakan tanpa impor ini, Indonesia memasuki 2026 dengan prospek kemandirian pangan yang semakin kuat, sekaligus memberi dukungan penuh bagi pertumbuhan sektor pertanian dan peternakan nasional.

Terkini