JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, dibuka melemah ke posisi Rp16.906 per dolar AS.
Rupiah turun sebesar 12 poin atau 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS mengalami apresiasi sebesar 0,04 persen menuju posisi 97,96, menandakan dolar masih kuat di pasar global.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destri Damayanti sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral terus memonitor transmisi kebijakan moneter agar nilai tukar tetap stabil. Penguatan dolar AS pada perdagangan hari ini disinyalir terkait ekspektasi investor terhadap data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis.
Faktor Domestik dan Global Pengaruhi Nilai Tukar
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rupiah berpotensi bergerak fluktuatif, dengan perkiraan penutupan pada kisaran Rp16.890 hingga Rp16.930 per dolar AS. “Kinerja rupiah saat ini tidak bisa dilepaskan dari sentimen domestik maupun global,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan penolakan usulan IMF untuk menaikkan PPh karyawan demi menjaga defisit APBN di bawah 3 persen.
Pemerintah diproyeksikan tetap mengedepankan perluasan basis pajak dan upaya menutup kebocoran penerimaan, daripada menaikkan tarif pajak secara drastis. Menurut Ibrahim, langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan penerimaan negara secara berkelanjutan.
Sementara itu, dari luar negeri, ketegangan antara AS dan Iran memengaruhi sentimen pasar. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Iran belum memenuhi tuntutan utama AS dalam perundingan, sehingga investor mengalihkan perhatian pada potensi fluktuasi nilai tukar global.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini semakin rendah, meski kontrak berjangka masih menunjukkan kemungkinan pemangkasan pada Juni 2026.
Kurs Dolar AS di Bank Besar
Berikut rincian kurs dolar AS di beberapa bank besar per Jumat, 20 Februari 2026:
BCA: Harga beli e-rate Rp16.879, harga jual Rp16.899; TT counter dan bank notes dibanderol Rp16.735 – Rp17.035.
BRI: Harga beli e-rate Rp16.880, harga jual Rp16.905; TT counter Rp16.810, jual Rp17.010.
Mandiri: Special rate Rp16.885 – Rp16.915; TT counter dan bank notes Rp16.700 – Rp17.000.
BNI: Special rate Rp16.882 – Rp16.902; TT counter dan bank notes Rp16.790 – Rp17.090.
Perbedaan kurs antar kanal transaksi mencerminkan strategi masing-masing bank dalam menghadapi volatilitas pasar. Investor maupun nasabah disarankan memanfaatkan kanal digital atau layanan e-rate untuk transaksi yang lebih efisien.
Strategi Investor dan Perkiraan Tren Rupiah
Investor kini mengamati data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS sebagai indikator inflasi pilihan The Fed. Hasil data tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan moneter global, sehingga turut berdampak pada pergerakan rupiah.
Selain itu, pemerintah Indonesia diharapkan memperkuat kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas rupiah. Fokus utama bukan hanya menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga meningkatkan basis pajak agar defisit anggaran dapat ditekan tanpa memberatkan masyarakat.
Pergerakan rupiah yang dibuka melemah Jumat, 20 Februari 2026, merupakan refleksi dari kombinasi faktor domestik dan global.
Dari sisi domestik, kebijakan fiskal yang hati-hati menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi. Dari sisi global, sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS memberikan tekanan terhadap nilai tukar.
Bank Indonesia melalui berbagai instrumen, termasuk penguatan transmisi kebijakan suku bunga, serta layanan monitoring kurs digital, berupaya menjaga rupiah agar tetap berada dalam jalur stabil.
Sementara itu, perbankan besar seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI menyesuaikan harga jual dan beli untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat, investor, dan perusahaan.
Investor disarankan mengikuti perkembangan kurs harian melalui kanal resmi bank, memantau indikator ekonomi domestik dan global, serta memanfaatkan digital banking untuk transaksi yang efisien.
Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan, namun juga menciptakan peluang bagi pelaku ekonomi untuk menyesuaikan strategi investasi dan hedging terhadap fluktuasi nilai tukar.