JAKARTA - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara kembali mengalami kenaikan.
Berdasarkan rapat tim penetapan harga TBS untuk periode 25 Februari–3 Maret 2026, harga TBS umur 10–20 tahun disepakati naik Rp 6,38 per kilogram menjadi Rp 3.572,15 per kilogram.
Lonjakan ini memberikan sentimen positif bagi petani sawit di wilayah tersebut, terutama bagi kelompok tani yang mengandalkan produksi TBS sebagai sumber pendapatan utama.
Selain harga TBS, harga minyak sawit mentah (CPO) periode ini ditetapkan sebesar Rp 14.074,02 per kilogram, sementara harga kernel berada di angka Rp 13.701,36 per kilogram. Indeks K tercatat 92,65 persen, menjadi patokan untuk menghitung harga TBS berdasarkan kualitas dan umur tanaman.
Kenaikan ini menjadi kabar gembira bagi petani yang tengah menyiapkan panen dan menjual produksi mereka ke pabrik pengolahan. Meskipun kenaikan nominal terlihat kecil, namun secara kumulatif memberikan dampak nyata terhadap pendapatan bulanan petani sawit.
Harga TBS Berdasarkan Umur Tanaman
Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara merinci harga TBS kelapa sawit menurut umur tanaman, sehingga petani memiliki acuan jelas terkait nilai jual buah mereka. Harga TBS per kilogram untuk tanaman berumur 3 tahun adalah Rp 3.016,94, sedangkan umur 4 tahun Rp 3.217,64. Tanaman 5 tahun dibanderol Rp 3.328,17, sementara 6 tahun Rp 3.424,66, dan umur 7 tahun mencapai Rp 3.391,97.
TBS tanaman 8 tahun dihargai Rp 3.512,99, umur 9 tahun Rp 3.543,50, sedangkan 10–20 tahun Rp 3.572,15. Untuk tanaman di atas 20 tahun, harga sedikit menurun, yakni 21 tahun Rp 3.578,09, 22 tahun Rp 3.546,41, dan 23 tahun Rp 3.495,01. Tanaman berumur 24–30 tahun memiliki harga mulai dari Rp 3.389,32 hingga Rp 3.068,85.
Dengan rincian harga ini, petani dapat merencanakan panen, penjualan, serta estimasi pendapatan per kebun secara lebih matang. Selain itu, informasi harga per umur tanaman juga membantu koperasi dan pabrik dalam menghitung alokasi TBS dan penentuan harga pembelian yang adil.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Petani
Kenaikan harga TBS memberikan manfaat langsung bagi petani sawit. Dengan harga baru, pendapatan petani meningkat, sehingga mendorong stabilitas ekonomi di pedesaan yang bergantung pada perkebunan kelapa sawit. Terlebih bagi petani yang memiliki pohon sawit umur produktif, mereka dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk memperkuat modal kerja, membeli pupuk, atau meningkatkan fasilitas kebun.
Kenaikan harga juga memiliki efek positif bagi pabrik pengolahan. Dengan harga CPO dan kernel yang mengikuti tren TBS, pabrik dapat menyesuaikan harga beli, memastikan rantai pasok tetap stabil, dan mengurangi risiko kekurangan pasokan bahan baku. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa sektor sawit di Sumatera Utara tetap kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
Faktor yang Mempengaruhi Harga TBS dan CPO
Harga TBS dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga CPO internasional, permintaan pasar, kualitas buah, dan biaya produksi. Dalam periode ini, kenaikan harga TBS Sumut sejalan dengan tren harga CPO yang stabil di pasar global.
Selain itu, indeks K yang menjadi acuan penilaian kualitas buah turut memengaruhi harga per kilogram. Semakin tinggi kualitas buah atau semakin tua umur tanaman produktif, harga TBS menjadi lebih tinggi. Petani yang mampu mempertahankan kualitas panen optimal akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga TBS.
Kondisi pasar dan harga juga mendorong petani untuk merencanakan panen lebih efisien, mengoptimalkan hasil kebun, serta menyesuaikan strategi penjualan. Dengan pemahaman ini, petani dan koperasi dapat meminimalkan kerugian akibat fluktuasi harga sementara menjaga kontinuitas produksi.
Strategi Petani dan Industri Sawit Menghadapi Harga TBS
Meningkatnya harga TBS menjadi momentum bagi petani untuk memperkuat kebun mereka melalui pemeliharaan rutin dan pengelolaan hasil panen yang lebih efektif. Koperasi petani juga bisa memanfaatkan data harga per umur tanaman untuk merancang kontrak jangka menengah dengan pabrik pengolahan CPO dan kernel.
Dari sisi industri, kenaikan h